Berita | Jumat, 17 Mei 2013 07:35
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
  • Total views : 536
Embed code :

Kasus pencucian uang perbankan dengan modus pengajuan kredit fiktif berhasil diungkap oleh Ditreskrimsus Polda Jateng. Akibat kasus ini Bank Bukopin Cabang Tegal menelan kerugian hingga Rp 36 miliar.

 

Dirreskrimsus Polda Jateng Kombes Pol Mas Guntur Laupe saat gelar perkara, Kamis (16/5) mengatakan, pihaknya saat ini sudah menangkap satu tersangka, yakni Parmanto, warga Randugunting, Tegal Selatan.

 

Tersangka bertindak menerima uang hasil tindak pidana perbankan dan pemalsuan data yang diajukan tersangka lainnya, yakni Naufal. Tersangka Parmanto diketahui menyamarkan dan menyembunyikan dana yang digunakan untuk pembelian sejumlah aset.

 

Selain menangkap tersangka, petugas juga berhasil menyita aset yang diduga merupakan hasil kejahatan. Aset tersebut ialah dua sertifikat tanah atas nama Parmanto di Tegal, dua sertifikat rumah di Semarang dan Solo, 37 lembar cek dari rekening Bank Bukopin atas nama Parmanto yang belum dicairkan, dan 26 slip pengiriman uang.

 

Naufal yang merupakan Account Officer Bank Bukopin Cabang Tegal itu, diketahui melakukan rekayasa dokumen pengajuan kredit fiktif ketahanan pangan dan energi untuk budidaya tanaman tebu. Dengan proposal fiktif tersebut, ia kemudian mendapatkan dana Rp 13 miliar.

 

Selain itu, tersangka juga melakukan pengambilan dan pemindahbukuan dana para nasabah sebesar Rp 22,2 miliar sehingga total kerugian sekitar Rp 36 miliar. Dana tersebut kemudian oleh tersangka Parmanto digunakan untuk bisnis jual beli DO gula.

 

Namun, ternyata bisnis itu juga diketahui fiktif. Uang hasil kejahatan ternyata digunakan untuk pembelian aset berupa tanah, rumah, dan mobil mewah.

 

Tersangka Parmanto masih menjalani pemeriksaan di Polda Jateng, sedangkan tersangka utama, yakni Naufal, masih menjalani proses peradilan di Tegal. Kasus ini terus dikembangkan oleh pihak kepolisian.

 

Reporter & Kameraman: Apit Yulianto

VO: Gesti Arma

Editor Video: Arief