Berita | Kamis, 18 Apr 2013 07:45
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
  • Total views : 392
Embed code :

Puluhan perempuan yang tergabung dalam Jaringan masyarakat Anti Pejabat Publik Pelaku KDRT Kota Semarang, Senin (15/4) melakukan aksi unjuk rasa turun ke jalan. Mereka menuntut agar Wakil Wali Kota Magelang Joko Prasetyo dihukum berat dan dilakukan pemecatan.
 
Selain melakukan orasi mengecam setiap tindakan kekerasan di rumah Tangga, mereka juga melakukan longmarch mulai dari mendatangi Mapolda Jateng, Pengadilan Tinggi Jawa Tengah, dan kompleks Gubernuran di Jalan Pahlawan. Tidak hanya itu, mereka juga membawa ogoh-ogoh replika Joko Prasetyo.
 
Tidak puas dengan itu, pengunjuk rasa membakar habis ogoh-ogoh tersebut untuk menyimbolkan pelaku kekerasan harus diadili sesuai perbuatannya. Sebelum membakar ogoh-ogoh didahului melayangkan sepatu dengan melempar ke arah ogoh-ogoh secara bertubi-tubi.
 
Aksi yang diikuti oleh mayoritas perempuan ini pun unik seraya melakukan ritual memakai sesajen seperti kembang dan membakar kemenyan di depan pintu gerbang Gubernuran untuk mengusir roh-roh halus. Tidak hanya itu beberapa orang membawa spanduk dan poster yang bertuliskan: "Hukum Berat Wawali Kota Magelang Pelaku KDRT", "Pecat Joko", "Hukum Bisa Dibeli Dengan Uang dan Kekuasaan", dan "Stop Kriminilisasi Korban".
 
Tuntutan Jaksa yang menghukum hanya dua bulan penjara kepada Joko Prasetyo, terdakwa kasus KDRT adalah tuntutan yang rendah dan mencidrai keadilan di Indonesia.

Fatkhurozi Direktur Legal Resources Center untuk Keadilan Jender dan Hak Asasi Manusia (LRC-KJHAM) menyampaikan aksi ini menuntut Majlis Hakim untuk memeriksa Joko Prasetyo dan menjatuhkan vonis seberat-beratnya melebihi hukuman yang diberikan oleh jaksa penuntut umum. Dan mendesak kepada Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo untuk melakukan pemanggilan dan pemecatan kepada yang bersangkutan dengan rujukan Mendagri.

Reporter & Kameraman: Yulianto
VO: Arief
Editor Video: Arief