Feature | Sabtu, 25 Agt 2012 22:31
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
  • Total views : 882
Embed code :

Perhelatan acara ritual sesaji Rewandha yang dihelat di Goa Kreo, Kelurahan Kandri, Kecamatan Gunugpati, berjalan cukup meriah. Setidaknya 1.000 orang memadati jalan raya Gunungpati, persisnya di pertigaan menuju Goa Kreo di kawasan proyek pembangunan waduk Jatibarang, Sabtu (25/8). 

Sejak pagi, warga sudah memadati jalan untuk menunggu kirab yang diikuti oleh sekitar 400 peserta. Memberi makan kera ini merupakan penggalan tradisi Rewandha, yang setiap tahun diselenggarakan masyarakat Kelurahan Kandri, sebagai ritual setelah Lebaran atau Syawalan. Sesaji Rewandha ini merupakan atraksi budaya Desa Wisata Kreo yang tengah digadang-gadang Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang, untuk menarik wisatawan.

Acara dimulai dengan mengarak sesaji atau ubo rampe dari Masjid Al-Mabrur dengan cara memanggul gunungan hasil bumi seperti buah-buahan, ketupat, lepet, dan tumpeng nasi kuning. Ubo rampe ini diarak sejauh sekitar 1 kilometer. Hadir juga dalam ritual itu Plt Walikota Semarang, Hendrar Prihadi, dan jajaran SKPD, serta warga. Mereka dihibur dengan kesenian tradisional seperti tarian dan permainan alat musik lesung dan tarian kera yang diperankan anak-anak sekolah dasar.

Kemudian acara dilanjutkan dengan pengisahan dan napak tilas tentang sejarah Sunan Kalijaga yang membawa kayu jati untuk Sokoguru masjid Agung Demak dengan cara melalui aliran sungai, namun di perjalanan kayu itu terjepit oleh dua bukit dan jurang, sehingga Sunan Kalijaga menamakan kali itu dengan Goa Kreo.
 
Kasmani sesepuh adat mengatakan, sesaji Rewondo tradisi yang dilakukan dari nenek moyang dahulu. Acara ini telah banyak mendatangkan pengunjung karena tradisi dikemas dan diberi nama yang lebih menarik. Tradisi ini telah berjalan 16 tahun berjalan.

Selain gunungan hasil bumi, arak-arakan juga disertai dengan tumpeng nasi kuning sebagai simbol sedekah bumi, nasi bungkus nyadran, ketupat dan lepet makanan khas setiap Syawalan dan Lebaran, patung badak bernama Si warak, dan replika kayu jati. Hanya dalam hitungan menit, gunungan tersebut ludes setelah menjadi rebutan warga. Mereka mempercayai hasil bumi dan gunungan tumpeng yang telah disertai doa oleh para pemuka agama setempat tersebut merupakan berkah kehidupan.


Reporter & Kameraman: Yulianto
Dubber: Diantika PW
Editor Video:Zaenal