Berita | Minggu, 15 Jul 2012 09:53
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
  • Total views : 1415
Embed code :

Memperingati HUT yang ke-75 Wayang Orang (WO), Ngesti Pandawa, menggelar pagelaran wayang orang gabungan, Sabtu (14/7) malam di Gedung Ki Narto Sabdho TBRS Semarang.

Pertunjukan itu tidak hanya diperankan para tokoh seniman, tetapi juga para pengusaha. Di antaranya Teguh (Kenthus), Ali Marsudi, Ida, Ciblek, Aylawati Suprana, Giok Hartono, Gendis (cucu mantan Presiden RI Soeharto), dan Didik Nini Towok. Dalam pementasan itu, mereka membawakan cerita Gondang Jagad Gondang Dewa.

Para tokoh juga tidak hanya berasal dari Semarang, tetapi juga empat kota besar lainnya, seperti Solo, Jogja, Jakarta dan Banyumas. Ratusan penonton yang menyaksikan pementasan wayang orang tersebut cukup terhibur. Terutama saat atraksi para pemain kuda lumping, tarian Didik Nini Towok, serta saat sesi pertempuran Arjuna dan Srikandi melawan musuh-musuhnya.

Pentas wayang orang kali ini menceritakan tokoh Srikandi yang menuntut balas kematian ayahnya. Meski begitu, balas dendam Srikandi tidak menggunakan cara-cara yang mengakibatkan kerusakan.

Penampilan Ciblek dan Didik Nini Towok juga membuat tawa para penonton, terutama saat dia membuka rambut palsunya sehingga terlihat rambut aslinya yang sangat cepak. Sontak hal ini menjadi bahan ejekan Ciblek dan pemain lainnya.

Pimpinan Ngesti Pandawa, Cicuk Sastro Sudirjo, mengatakan dengan usia Ngesti Pandawa yang telah mencapai 75 tahun ini, dia berharap komunitas budaya tersebut bisa tetap eksis. Dia juga berharap Ngesti Pandawa bisa mencapai usia 100 tahun, sesuai dengan pesan pendiri Ngesti Pandawa Ki Narto Sabdho.

Cicuk menambahkan, selain para pengusaha ini ikut melestarikan budaya wayang orang dengan turut bermain, mereka juga memberikan bantuan berupa dana untuk perkumpulan seni tersebut.

Hadir juga dalam acara itu Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo dan tokoh budayawan Jaya Suprana.

Reporter & Kameraman: Yulianto
Dubber: Diantika PW
Editor Video: Arief