Feature | Jumat, 03 Feb 2012 06:16
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
  • Total views : 5167
Embed code :

Mengelola sebuah panti asuhan bagi anak-anak penyandang cacat ganda atau berkebutuhan khusus, ternyata tidak mudah. Diusir dan disisihkan oleh masyarakat menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Namun, perempuan ini tetap tegar mengabdikan hidupnya untuk anak-anak itu.

Sosok tersebut ada dalam diri Rahma, saat ditemui di Panti Asuhan Al-Rifdah yang dikelolanya, Kamis (2/2), perempuan tersebut terlihat ramah. Dia yang berkerudung hitam sedang menggendong Shalma (13 bulan). Dia juga nampak memberi nasehat kepada anak-anak untuk tenang dan tidak berlari-lari di dalam ruangan kecil itu.

Perempuan yang bernama lengkap Rahma Faradila itu mengajak semuanya duduk yang rapi. Ibu dari Atiya Dila Karista (2) kelahiran Semarang 17 Juli 1977 ini menuturkan, cita-cita menjadi seorang pengajar muncul saat dirinya usai meraih gelar sarjana dari IKIP PGRI Semarang.

Sebelum memutuskan untuk menjadi guru, dan mengelola panti asuhan, istri dari Sugiarto (37) itu aktif menjadi relawan di Yayasan Sosial Soegijapranata. Tugasnya, mendata anak-anak yang hidup di jalanan dan terlantar.

Setelah mengundurkan diri dari yayasan, Rahma, panggilan akrab Rahma Faradila itu pun memutuskan untuk menampung anak-anak yang memiliki kelainan secara fisik di rumah orang tuanya di Kelurahan Bangetayu pada awal 2006.

Awalnya, dia bertemu dengan Aris di rumah kosong yang ada di Kabupaten Kudus. Kemudian baru bertemu dengan Soli, Ratman, Temu, dan Slamet. Mereka diasuh di rumah orang tua Rahma. Anak kelima dari tujuh bersaudara dari pasangan almarhum Mahcimin dan Mahmudah (68) ini menuturkan beberapa saat berlalu, masyarakat mulai melihat aktifitasnya tersebut.

Sehingga sebagian masyarakat memberikan peringatan agar aktifitas mengasuh anak-anak cacat ganda itu tidak dilakukan dirumah orang tuanya. Dia tidak setuju jika mereka ada yang menyatakan, anak-anak cacat itu membawa penyakit menular, mengganggu pandangan, dan kumuh.

Ketegaran dan niat untuk terus berbagi dengan anak-anak itu tak membuatnya patah semangat. Dia pun kemudian mengontrak sebuah rumah di Kelurahan Sembungharjo bersama teman-teman yang membantunya selama ini. Lagi-lagi, di rumah kontrakan itu, Rahma menerima keluhan dan keberatan beberapa warga atas keberadaan panti asuhan tersebut.

Setelah memutar otak dan berkonsultasi dengan keluarga, Rahma pun membeli tanah di Jalan Tlogomulyo dengan cara kredit. Selain menggunakan dana pribadi dari honor mengajar di SMA Pandanaran, untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari anak-anak, pihaknya juga menggunakan dana dari sumbangan para donatur dan Dinas Sosial Kota Semarang.

Dari pengalaman itulah, Rahma terus bersemangat. Dukungan keluarga dan suami, baginya menjadi penting untuk masa depan anak-anak dan panti asuhan itu. Karena, meski mengalami kekurangan secara fisik, anak-anak yang diasuhnya itu juga memiliki cita-cita seperti anak-anak normal pada umumnya.

Di sudut bangunan berbentuk asrama berukuran 8 x 19 meter itu, terdengar tangisan dan jeritan anak-anak. Di ruangan berukuran 12 x 5 meter, terlihat tiga boks bayi berwarna pink tertata rapi. Springbed yang dibungkus kulit imitasi berwarna hitam nampak ditumpuk di sudut ruangan.

Dari sekian anak, Temu (12) dan Ratman (6) merupakan anak yang paling aktif. Temu dan Ratman pun tak bisa berkata dengan jelas. Hanya dengan mengucapkan huruf vokal saja saat bicara dengan setiap tamu yang datang, maupun kepada para pengasuh.

Reporter & Kameraman: Yulianto
Dubber & Editor Video: Arief