Berita | Senin, 13 Jun 2011 20:09
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
  • Total views : 1304
Embed code :

ERA kaset audio memang boleh berakhir dengan munculnya teknologi yang lebih canggih, misalnya compact disc atau laser disc. Tapi surutnya era kaset itu tidak berlaku bagi para pedagang kaset bekas di lapak-lapak pasar tradisional.

Di Pasar Yaik Baru, yang berada di kompleks Pasar Johar Semarang, masih bisa ditemui para penjual kaset bekas, dengan kondisi relatif mulus.

Dengan menelusuri los-los sempit di Pasar Yaik Baru ini, kita akan mendapatkan pedagang kaset dengan menggunakan lapak-lapak. Para pedagang ini menempati los-los itu sejak tahun 90-an, saat itu teknologi audio kaset masih bersimaharaja.

Namun saat kaset tersingkir, para penjual itu masih dengan setia menjajakan kaset dengan semua jenis musik. Dari karawitan, dangdut, keroncong, pop, rock bahkan klasik dan jazz.

Untuk memanjakan konsumen, calon pembeli pun bisa mencoba kaset di tempat dengan disediakan tape recorder yang dirancang sendiri dan sebuah speaker tua.

Di sepanjang los itu kini tinggal tersisa ada 4 pedagang. Yaitu Nunuk, Maryono, Hartojo dan Karyadi. Mereka mendapatkan kaset-kaset itu dari para kolektor dan pecinta musik dengan harga beli antara Rp 4 ribu - Rp 6 ribu perkaset. Lalu dijualnya kembali Rp 8 ribu sampai Rp 10 ribu.

Kaset itu adalah album-album keluaran tahun 60, 70, 90an. Jadi bagi para penyuka musik-musik jadul, kupingnya bisa dimanjakan di lapak kaset bekas ini, dengan harga jauh lebih murah dari kaset baru.

Para pedagang mengaku memang tidak bisa menangguk untung besar, tapi cukup untuk membiayai hidup keseharian. Terbukti mereka masih bertahan dengan berdagang kaset lama.

Jika sampai kini para pedagang itu tetap eksis, ini artinya, kaset tak tergoyahkan oleh kemajuan teknologi audio.

 

Reporter & Kameraman: Bambang Isti
Dubber & Editor Video: Aminudin